NAMA KELOMPOK :
1. DHAMAR ARIF RAHMAN (11110919)
2. FAJAR SIDIK(12110573)
3. YASER ARAFAT AR(18110603)
EJAAN
A. Pengertian Ejaan
Mungkin beberapa dari kita sering mendengar kata ejaan. Namun, sedikit sekali yang mengetahui mengenai ejaan itu sendiri. Menurut beberapa sumber , ejaaan adalah suatu keseluruhan sistem penulisan bunyi-bunyi bahasa yang meliputi :
a) Perlambangan fonem dengan huruf (tata bunyi)
b) Ketetapan penulisan satuan-satuan bentuk kata dasar, kata ulang, kata majemuk, dan lain sebagainya.
c) Ketetapan cara menulis kalimat dan bagian-bagiannya dengan mengunakan tanda baca.
Sedangkan menurut Wikipedia bahasa Indonesia, ejaan adalah penggambaran bunyi bahasa (kata,kalimat,dsb) dengan kaidah tulisan (huruf) yang distandarisasikan dan mempunyai makna. Ejaan bisanya memiliki 3 aspek yaitu :
a) Aspek fsiologis yang menyangkut penggambaran fonem dengan huruf dan penyusun abjad.
b) Aspek morfologis ang menyangkut penggambaran satuan-satuan morfemis
c) Aspek sintaksis yang mnyangkut penanda ujaran berupa tanda baca
B. Macam-macam Ejaan
1. Ejaan Van Ophuijsen
Ejaan Van Ophuijsen disebut juga ejaan Balai Pustaka.Masyarakat pengguna bahasa menerapkannya sejak tahun 1901 sampai 1947.Ejaan ini merupakan karya Ch. A. Van Ophuijsen, dimuat dalam Kitab Logat Melayoe(1901).Ejaan ini digunakan untuk menulis kata-kata Melayu menurut model yang dimengerti oleh orang Belanda, yaitu menggunakan huruf Latin.
Ciri-ciri ejaan Van Ophusyen :
Huruf /U/ ditulis /OE/.
Koma Hamzah /K/ ditulis denga tanda /’/ pada akhir kata. Misal : bapa’ , ta’.
Jika pada suatu kata berakhir dengan huruf /A/ mendapat akhiran /I/, maka diatas akhiran itu diberi tanda trema /”/.
Huruf /C/ yang pelafalannya keras diberi tanda /’/ diatasnya.
Kata ulang diberi angka 2, misalnya janda2.
Kata majemuk dirangkai ditulis dengan 3 cara :
o Dirangkai menjadi satu, misalnya : hoeloebalang, apabila/, dsb.
o Dengan menggunakan tanda penghubung, misalnya : Rumah-sakit.
o Dipisahkan , misalnya : anak-negeri.
2. Ejaan Republik /Ejaan Suwandi
Ejaan Republik atau Ejaan Suwandi, adalah ketentuan ejaan dalam bahasa Indonesia yang berlaku sejak 17 Maret 1947. Ejaan ini kemudian juga disebut dengan nama Ejaan Suwandi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu. Ejaan ini menganti ejaan sebelumnya , yaitu Ejaan Van Ophuijsen.
Ciri khusus Ejaan Republik/ Suwandi :
Huruf /oe/ dalam ejaan Van Ophusyen berubah menada /u/.
Tanda trema pada huruf /a/ dan /i/ dihilangkan.
. Koma ain dan koma hamzah dihilangkan. Koma hamzah ditulis dengan /k/ misalanya kata menjadi katak.
Huruf /e/ keras dan /e/ lemah ditulis tidak menggunakan tanda, misalnya ejaan, seekor, dsb.
Penulisan kata ulang dapat dilakukan dengan dua cara.
Contohnya :
o Berlari-larian
o Berlari2-an
Penulisan kata majemuk dapat dilakukan dengan tiga cara
Contohnya :
o Tata laksana
o Tata-laksana
o Tatalaksana
Kata yang berasal dari bahasa asing yang tidak menggunakan /e/ lemah (pepet) dalam bahasa Indonesia ditulis tidak menggunakan /e/ lemah, misalnya : /putra/ bukan /putera/, /praktek/ bukan /peraktek/, dsb.
3. Ejaan Malindo
Ejaan Malindo (Melayu-Indonesia) adalah suatu ejaan dari perumusan ejaan melayu dan Indonesia. Perumusan ini berangkat dari kongres Bahasa Indonesia tahun 1954 di Medan, Sumatera Utara. Ejaan Malindo ini belum sempat diterapkan dalam kegiatan sehari-hari karena saat itu terjadi konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia.
4. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan penyempurnaan dari ejaan-ejaan sebelumnya. EYD diresmikan pada saat pidato kenegaraan memperingati HUT Kemerdekaan RI XXVII, 17 agustus 1972.
Kemudian dikukuhkan dalam Surat Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972. EYD ini hasil kerja panitia ejaan Bahasa Indonesia yang dibentuk tahun 1966.
Ciri khusus Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) :
.Perubahan huruf /j/, /dj/, /nj/, /ch/, /tj/, /sj/ pada ejaan Republik menjadi /y/, /j/, /ny/, /kh/, /c/, /sy/.
Contoh :
o Jang yang
o Djadi jadi
o Njonja nyonya
o Chabar khabar
o Tjepat cepat
o Sjarat syarat
Kata ulang ditulis dengan satu cara yakni menggunakan tanda hubung (tidak diperkenankan menggunakan tanda angka /2/)
Contoh :
o Besar2 Besar-besar
o Se-besar2-nya sebesar-besarnya
o Sayur2-an sayur-sayuran
Penulisan kata ulang dengan menggunakan angka /2/ hanya diperkenankan pada tulisan cepat atau notula.
Penulisan kata majemuk harus dipisahkan dan tidak perlu menggunakan tanda hubung.
Contoh :
o Duta-besar duta besar
o Kaya-raya kaya raya
o Tata-usaha tata usaha
Gubangan kata yang sudah dianggap senyawa (satu kata) ditulis serangkai. Contohnya : Assalamualaikum, hulubalang, dsb.
Kata ganti ku, mu, kau, dan nya ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Contohnya : kumiliki, dipukul, barangmu, pacarku, dsb.
Kata depan di dan ke ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Contohnya :
o di Surabaya bukan disurabaya
o ke sini bukan kesini
o di sini bukan disini
Partikel pun terpisah dari kata yang mendahuluinya, kecuali pun yang menjadi kelompok kata.
Contohnya :
o Kapan pun aku tetap menantimu. Meskipun demikian aku tak akan marah (meskipun adalah kelompok kata)
Penulisan kata si dan sang dipisah dari kata yang mengikutinya.
Contohnya :
o Si penjual bakso bukan sipenjual bakso
o Sang pujangga bukan sangpujangga
Partikel per berarti tia-tiap dipisah dari kata yang mengikutinya.
Contohnya :
o Per orang bukan perorang
o Per lembar bukan perlembar
Daftar Pustaka
http://tripangesti.blogspot.com/2011/02/macam-macam-ejaan_12.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Ejaan
http://id.wikipedia.org/wiki/Ejaan_Van_Ophuijsen
http://id.wikipedia.org/wiki/Ejaan_Republik
Sabtu, 16 Maret 2013
Minggu, 09 Desember 2012
Sekjen PBB: Kesepakatan Iklim Merupakan Langkah Awal
PBB (AFP/ANTARA) - Sekjen PBB, Ban Ki-moon, meyakini
bahwa sebuah kesepakatan baru dalam mengatasi pemanasan global merupakan
sebuah langkah awal, dan bahwa pemerintah harus melakukan “upaya lebih”
untuk menghentikan peningkatan temperatur, ujar juru bicaranya pada
Sabtu.
Ban menyambut serangkaian kesepakatan yang dibuat di ibu kota Qatar,
Doha, untuk menangani perubahan iklim dan memperpanjang Kyoto Protocol,
yang akan mengarahkan jalan menuju “kesepakatan yang komprehensif dan
mengikat secara hukum hingga 2015,” ujar juru bicara Martin Nesirky.
Namun sekjen PBB tersebut “meyakini bahwa banyak yang harus dilakukan
dan dia mengimbau pemerintah-pemerintah, bersama dengan para pengusaha,
dan warga sipil, untuk meningkatkan upaya sehingga peningkatan
temperatur global dapat dibatasi hingga dua derajat Celsius.”
Ban “akan meningkatkan keterlibatannya dalam berbagai upaya untuk
meningkatkan ambisi, pendanaan iklim, dan melibatkan para pemimpin dunia
saat kita mencapai kesepakatan global pada 2015,” tambah Nesirky.
Kyoto Protokol - pakta terikat satu-satunya dalam membatasi emisi gas
rumah kaca yang memanaskan Bumi, berakhir pada 31 Desember, dan
kesepakatan Doha akan disimpulkan pada Sabtu, setelah 12 hari
pembicaraan sengit dengan Rusia yang menentang untuk memperpanjang pakta
tersebut, ujar para diplomat.
Perpanjangan Kyoto disetujui oleh Uni Eropa yang terdiri dari
27-anggota, Australia, Swiss dan delapan negara industri lainnya, yang
menandatangani pemotongan emisi hingga 2020.
Pembicaraan PBB Tentang Iklim Masuki Hari Terakhir
Doha (AFP/ANTARA) - Perundingan PBB untuk menghentikan
pemanasan global memasuki hari terakhir di Doha pada Jumat, dengan poin
utama masih dibicarakan: memperluas pembatasan emisi gas rumah kaca dan
pendanaan bagi negara-negara miskin.
Para delegasi sedang bersiap untuk menghadapi perundingan terakhir
yang panjang untuk menemukan konsensus mengenai cara-cara interim guna
mengendalikan perubahan iklim, dan memuluskan jalan menuju kesepakatan
baru yang harus mulai diberlakukan pada 2020.
Sejumlah LSM dan delegasi menyatakan keputusasaan pada laju negosiasi
tersebut, yang dimulai pada 26 November dan bertepatan dengan
peringatan ilmiah baru bahwa Bumi menghadapi masa depan yang penuh
bencana akibat kondisi cuaca ekstrem yang lebih sering terjadi.
“Para negosiator politik perlu menyadari dengan segera bahwa iklim
tidak dapat dinegosiasikan,” ujar CEO Greenpeace Kumi Naidoo kepada AFP
pada jam-jam terakhir pembicaraan tersebut.
“Sejumlah negosiasi keluar dari sentuhan dengan realitas ilmiah. Ini menyangkut keberlangsungan hidup manusia.”
Pendanaan untuk membantu negara-negara miskin menangani dampak
pemanasan global dan mengonversi sumber-sumber energi ramah lingkungan
menjadi titik kunci pembicaraan antara para negosiator dari hampir 200
negara.
Negara-negara maju ditekan untuk menunjukkan bagaimana mereka berniat
menjaga janji untuk meningkatkan pendanaan iklim bagi negara-negara
miskin menjadi 100 miliar dolar Amerika (sekitar Rp962,7 triliun) per
tahun pada 2020, meningkat dari total 30 miliar dolar Amerika (sekitar
Rp288,8 triliun) pada 2010-2012.
Negara-negara berkembang mengatakan bahwa mereka membutuhkan
setidaknya 60 miliar dolar Amerika (sekitar Rp577,6 triliun) antara saat
ini dan 2015.
Gua Seram Mungkin Menginspirasi Mitos Hades Yunani
Sebuah gua raksasa, yang mungkin jadi inspirasi mitos Yunani mengenai
dunia bawah tanah Hades, ternyata dulu pernah didiami ratusan orang.
Dengan begini, gua itu berpotensi menjadi salah satu desa prasejarah
tertua dan paling penting di Eropa — sebelum runtuh dan membunuh semua
manusia yang ada di bawahnya, kata peneliti.
Gianluca Cantoro, Foundation for Research and Technology, Hellas.Permukiman
yang kompleks di gua ini menunjukkan bahwa, bersama dengan situs lain
dari masa yang sama, awal zaman prasejarah Eropa mungkin lebih kompleks
daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Gua, yang terletak di selatan Yunani dan ditemukan pada 1958 itu, disebut Alepotrypa yang berarti "lubang rubah."
"Legenda mengatakan bahwa di sebuah desa di dekatnya, seorang pria sedang berburu rubah dengan anjingnya, dan anjing tersebut masuk ke lubang dan pria itu kemudian mengikuti anjingnya dan akhirnya menemukan gua tersebut," kata peneliti Michael Galaty, seorang arkeolog di Millsaps College di Jackson, Mississippi. "Cerita tersebut mungkin sangat samar, bergantung pada siapa Anda bertanya di desa itu, mereka mengatakan bahwa gua tersebut ditemukan oleh kakek mereka."
Sebuah katedral prasejarah
Setelah penemuan gua tersebut, para pejabat di Yunani awalnya melihat gua tersebut sebagai objek wisata yang potensial. Namun, ketika arkeolog menyadari rahasia sejarah yang terkandung di dalamnya, mereka pun memimpin upaya untuk menjaga agar pariwisata tidak merusak situs dengan ceroboh.
Foto oleh Attila GyuchaRuang
utama gua tersebut memiliki tinggi sekitar 60 meter dan lebar sekitar
100 meter. Secara keseluruhan, panjang gua tersebut hampir mencapai 1000
meter, cukup besar untuk memiliki danau (tempat penjelajah terkenal
Jacques Cousteau pernah menyelam).
"Jika Anda pernah menonton film 'The Lord of the Rings,' gua itu mungkin akan mengingatkan Anda pada tambang Moria, gua tersebut sangat mengesankan," kata Galaty kepada LiveScience.
Penggalian yang telah berlangsung sejak 1970 di Alepotrypa telah menemukan beberapa perkakas, tembikar, obsidian dan bahkan artefak perak dan tembaga yang berasal dari zaman Neolitikum atau Zaman Batu Baru, yang di Yunani dimulai sekitar 9.000 tahun yang lalu.
"Alepotrypa ada tepat sebelum Zaman Perunggu di Mycenaean Yunani, sehingga kita seperti melihat awal dari sesuatu yang berhubungan dengan zaman kepahlawanan di Yunani," ungkap Galaty.
Penghuni gua tampaknya menggunakan gua tidak hanya sebagai tempat berlindung, tetapi juga sebagai kuburan dan tempat ritual.
"Anda bisa membayangkan tempat obor, penuh dengan orang-orang yang menyalakan api unggun dan mengubur orang mati," kata Galaty. "Hal itu mirip seperti katedral prasejarah, sebuah situs ziarah yang menarik orang-orang dari seluruh wilayah dan mungkin dari tempat yang lebih jauh."
Gua permukiman
Gua tersebut tampaknya mengalami serangkaian pengerjaan dan kemudian diabaikan.
"Alepotrypa berada di tempat yang sempurna untuk menghalau perdagangan laut dari Afrika sampai ke Laut Tengah bagian timur, yang berada tepat di ujung selatan Yunani," ujar Galaty.
Foto oleh Michael GalatyGua
tersebut tiba-tiba tidak berpenghuni lagi, saat pintu masuknya runtuh
sekitar 5.000 tahun yang lalu, mungkin akibat gempa bumi, sehingga
mengubur hidup-hidup para penghuni.
"Gua tersebut merupakan tempat yang menakjubkan, kita bisa samakan seperti Pompeii pada zaman Neolitikum," kata Galaty, merujuk ke kota Romawi kuno Pompeii, yang terkubur ketika gunung Vesuvius meletus hampir 2.000 tahun yang lalu. Abu kemudian mengubur dan mengawetkan Pompeii, dan proses penggalian di sana memberikan para arkeolog pandangan yang sangat rinci dari kehidupan pada waktu itu.
Dalam kejadian yang hampir sama, runtuhnya gua untuk terakhir kalinya meninggalkan segala sesuatu yang pernah ada tetap pada tempatnya di Alepotrypa, seluruhnya tertimbun lapisan mineral seperti mutiara selama bertahun-tahun.
Menariknya, orang-orang pada saat itu tampaknya melakukan penguburan di gua tersebut serta melakukan ritual seperti membakar sejumlah besar kotoran dan menyimpan sejumlah besar gerabah berwarna dan bercat bagus.
"Tempat pemakaman dan ritual tersebut benar-benar membuat gua tersebut memiliki suasana dunia kematian. Sama seperti Hades, lengkap dengan Sungai Styx," tambah Galaty, merujuk pada sungai yang dalam mitos Yunani yang berperan sebagai batas antara alam fana dan dunia kematian.
Arkeologi Alepotrypa
Selama sekitar 40 tahun, penggalian di Alepotrypa sebagian besar dikerjakan sendiri oleh arkeolog Yunani Giorgos Papathanassopoulos. Dalam tiga tahun terakhir, Papathanassopoulos telah menghubungi arkeolog lain, yang telah membantu mengungkap wawasan baru di situs tersebut.
Misalnya, hasil survei di sekitar gua kini menunjukkan terdapat permukiman di luar gua. Secara keseluruhan, ratusan orang mungkin pernah tinggal di lokasi tersebut pada masa kejayaannya, sehingga membuatnya menjadi salah satu desa Neolitikum terbesar dan paling kompleks di Eropa.
Selain itu, analisis oleh para peneliti Panagiotis Karkanas di Ephoreia of Paleoanthropology and Speleology of Southern Greece di Athena dan rekan-rekannya mengonfirmasi bahwa ritual yang di sana memang sering dilakukan.
Masih banyak hal yang belum diketahui tentang gua tersebut. Misalnya, "kita tidak tahu seberapa dalam deposit yang ada dalam gua tersebut. Bisa saja, mungkin kita akan menemukan manusia Neanderthal di bawah sana," kata Galaty. "Pada ceruk di sampingnya, Anda menemukan artefak Neanderthal di gua tersebut, sehingga rasanya sulit untuk meyakini bahwa tidak akan ada bukti lain di Alepotrypa. Kami hanya belum menggali cukup dalam untuk menemukannya."
Analisis kimia terhadap tembikar juga dapat menjelaskan mengenai asal-usulnya.
"Giorgos Papathanassopoulos selalu berpendapat bahwa tembikar tersebut bukan berasal dari situs tersebut, tetapi berasal dari tempat lain, dan gua tersebut merupakan semacam tempat ziarah tempat orang-orang berpengaruh dimakamkan. Hal tersebut mengarahkan gagasan fantastis bahwa gua tersebut adalah pintu masuk sebenarnya ke Hades, itulah sumber ketertarikan bangsa Yunani dengan dunia kematian," kata Galaty.
Analisis kimia terhadap tulang dapat menghasilkan kesimpulan yang sama. "Apakah orang-orang pada zaman itu benar-benar membawa jasad dari tempat yang jauh untuk dikuburkan?" ungkap Galaty.
Situs tersebut, bersama dengan situs lainnya di Eropa, mungkin dapat membantu memastikan bahwa masyarakat yang kompleks muncul lebih awal dari yang sebelumnya diperkirakan di benua tersebut.
Papathanassopoulos, Karkanas dan Galaty, bersama dengan Anastasia Papathanasiou, William Parkinson, Daniel Pullen dan rekan-rekan mereka, akan merinci temuan mereka tersebut pada pertemuan tahunan Archaeological Institute of America pada 6 Januari di Seattle.
Gua, yang terletak di selatan Yunani dan ditemukan pada 1958 itu, disebut Alepotrypa yang berarti "lubang rubah."
"Legenda mengatakan bahwa di sebuah desa di dekatnya, seorang pria sedang berburu rubah dengan anjingnya, dan anjing tersebut masuk ke lubang dan pria itu kemudian mengikuti anjingnya dan akhirnya menemukan gua tersebut," kata peneliti Michael Galaty, seorang arkeolog di Millsaps College di Jackson, Mississippi. "Cerita tersebut mungkin sangat samar, bergantung pada siapa Anda bertanya di desa itu, mereka mengatakan bahwa gua tersebut ditemukan oleh kakek mereka."
Sebuah katedral prasejarah
Setelah penemuan gua tersebut, para pejabat di Yunani awalnya melihat gua tersebut sebagai objek wisata yang potensial. Namun, ketika arkeolog menyadari rahasia sejarah yang terkandung di dalamnya, mereka pun memimpin upaya untuk menjaga agar pariwisata tidak merusak situs dengan ceroboh.
"Jika Anda pernah menonton film 'The Lord of the Rings,' gua itu mungkin akan mengingatkan Anda pada tambang Moria, gua tersebut sangat mengesankan," kata Galaty kepada LiveScience.
Penggalian yang telah berlangsung sejak 1970 di Alepotrypa telah menemukan beberapa perkakas, tembikar, obsidian dan bahkan artefak perak dan tembaga yang berasal dari zaman Neolitikum atau Zaman Batu Baru, yang di Yunani dimulai sekitar 9.000 tahun yang lalu.
"Alepotrypa ada tepat sebelum Zaman Perunggu di Mycenaean Yunani, sehingga kita seperti melihat awal dari sesuatu yang berhubungan dengan zaman kepahlawanan di Yunani," ungkap Galaty.
Penghuni gua tampaknya menggunakan gua tidak hanya sebagai tempat berlindung, tetapi juga sebagai kuburan dan tempat ritual.
"Anda bisa membayangkan tempat obor, penuh dengan orang-orang yang menyalakan api unggun dan mengubur orang mati," kata Galaty. "Hal itu mirip seperti katedral prasejarah, sebuah situs ziarah yang menarik orang-orang dari seluruh wilayah dan mungkin dari tempat yang lebih jauh."
Gua permukiman
Gua tersebut tampaknya mengalami serangkaian pengerjaan dan kemudian diabaikan.
"Alepotrypa berada di tempat yang sempurna untuk menghalau perdagangan laut dari Afrika sampai ke Laut Tengah bagian timur, yang berada tepat di ujung selatan Yunani," ujar Galaty.
"Gua tersebut merupakan tempat yang menakjubkan, kita bisa samakan seperti Pompeii pada zaman Neolitikum," kata Galaty, merujuk ke kota Romawi kuno Pompeii, yang terkubur ketika gunung Vesuvius meletus hampir 2.000 tahun yang lalu. Abu kemudian mengubur dan mengawetkan Pompeii, dan proses penggalian di sana memberikan para arkeolog pandangan yang sangat rinci dari kehidupan pada waktu itu.
Dalam kejadian yang hampir sama, runtuhnya gua untuk terakhir kalinya meninggalkan segala sesuatu yang pernah ada tetap pada tempatnya di Alepotrypa, seluruhnya tertimbun lapisan mineral seperti mutiara selama bertahun-tahun.
Menariknya, orang-orang pada saat itu tampaknya melakukan penguburan di gua tersebut serta melakukan ritual seperti membakar sejumlah besar kotoran dan menyimpan sejumlah besar gerabah berwarna dan bercat bagus.
"Tempat pemakaman dan ritual tersebut benar-benar membuat gua tersebut memiliki suasana dunia kematian. Sama seperti Hades, lengkap dengan Sungai Styx," tambah Galaty, merujuk pada sungai yang dalam mitos Yunani yang berperan sebagai batas antara alam fana dan dunia kematian.
Arkeologi Alepotrypa
Selama sekitar 40 tahun, penggalian di Alepotrypa sebagian besar dikerjakan sendiri oleh arkeolog Yunani Giorgos Papathanassopoulos. Dalam tiga tahun terakhir, Papathanassopoulos telah menghubungi arkeolog lain, yang telah membantu mengungkap wawasan baru di situs tersebut.
Misalnya, hasil survei di sekitar gua kini menunjukkan terdapat permukiman di luar gua. Secara keseluruhan, ratusan orang mungkin pernah tinggal di lokasi tersebut pada masa kejayaannya, sehingga membuatnya menjadi salah satu desa Neolitikum terbesar dan paling kompleks di Eropa.
Selain itu, analisis oleh para peneliti Panagiotis Karkanas di Ephoreia of Paleoanthropology and Speleology of Southern Greece di Athena dan rekan-rekannya mengonfirmasi bahwa ritual yang di sana memang sering dilakukan.
Masih banyak hal yang belum diketahui tentang gua tersebut. Misalnya, "kita tidak tahu seberapa dalam deposit yang ada dalam gua tersebut. Bisa saja, mungkin kita akan menemukan manusia Neanderthal di bawah sana," kata Galaty. "Pada ceruk di sampingnya, Anda menemukan artefak Neanderthal di gua tersebut, sehingga rasanya sulit untuk meyakini bahwa tidak akan ada bukti lain di Alepotrypa. Kami hanya belum menggali cukup dalam untuk menemukannya."
Analisis kimia terhadap tembikar juga dapat menjelaskan mengenai asal-usulnya.
"Giorgos Papathanassopoulos selalu berpendapat bahwa tembikar tersebut bukan berasal dari situs tersebut, tetapi berasal dari tempat lain, dan gua tersebut merupakan semacam tempat ziarah tempat orang-orang berpengaruh dimakamkan. Hal tersebut mengarahkan gagasan fantastis bahwa gua tersebut adalah pintu masuk sebenarnya ke Hades, itulah sumber ketertarikan bangsa Yunani dengan dunia kematian," kata Galaty.
Analisis kimia terhadap tulang dapat menghasilkan kesimpulan yang sama. "Apakah orang-orang pada zaman itu benar-benar membawa jasad dari tempat yang jauh untuk dikuburkan?" ungkap Galaty.
Situs tersebut, bersama dengan situs lainnya di Eropa, mungkin dapat membantu memastikan bahwa masyarakat yang kompleks muncul lebih awal dari yang sebelumnya diperkirakan di benua tersebut.
Papathanassopoulos, Karkanas dan Galaty, bersama dengan Anastasia Papathanasiou, William Parkinson, Daniel Pullen dan rekan-rekan mereka, akan merinci temuan mereka tersebut pada pertemuan tahunan Archaeological Institute of America pada 6 Januari di Seattle.
Sekjen PBB akan Hadiri Konferensi Perubahan Iklim di Qatar
PBB, New York (ANTARA/Xinhua-OANA) - Sekretaris
Jenderal PBB Ban Ki-moon berencana pergi ke Doha, Qatar, awal pekan
depan guna menghadiri konferensi perubahan iklim PBB, yang juga dikenal
sebagai Sidang Ke-18 Konferensi Semua Pihak bagi Konvensi Kerangka Kerja
PBB mengenai Perubahan Iklim, kata juru bicara PBB di Markas PBB, Jumat
(30/11).
"Pada Selasa, 4 Desember, ia akan mengunjungi pembukaan segmen
tingkat tinggi pertemuan Konferensi Semua Pihak dan akan mengadakan
taklimat bersama Sekretaris Pelaksana Konvensi Kerangka Kerja Christiana
Figueres," kata Wakil Juru Bicara PBB Farhan Haq dalam taklimat harian
di Markas PBB, New York.
Konferensi perubahan iklim PBB dibuka pada Senin (3/12) di Ibu Kota
Qatar, Doha. Delegasi dari lebih 190 negara berkumpul di sana untuk
membaas masalah utama yang berkaitan dengan upaya anti-pemanasan global,
termasuk perincian masa komitmen kedua Protokol Kyoto.
Peserta konferensi tersebut menduga pertemuan PBB itu akan mendesak
dilanjutkannya apa yang telah dicapai pada masa lalu dan mencapai hasil
yang mendasar.
Sekretaris jenderal PBB itu juga akan bertemu dengan para pejabat
dari berbagai negara dan kelompok regional yang menghadiri pembicaraan
tersebut, serta pemimpin keuangan dan bisnis, kata Haq sebagaimana
dikutip Xinhua --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Sabtu.
Ban juga direncanakan mengunjungi Kuwait dan bermaksud mengunjungi
kamp pengungsi Suriah di Jordania serta Turki guna menarik perhatian
dunia mengenai kebutuhan kemanusiaan di sana, kata Haq.
Sekretaris jenderal PBB itu dijadwalkan kembali ke New York pada akhir pekan depan, ia menambahkan.
Sebelumnya dilaporkan ribuan pegiat dari wilayah Arab dan seluruh
dunia berencana melakukan pawai guna menuntut aksi mengenai iklim pada
Sabtu (1/12) di Doha, Qatar, tuan rumah pembicaraan iklim PBB selama dua
pekan.
Dipilihnya Qatar sebagai tuan rumah sudah menjadi kontroversi sebab
wilayah itu terkenal karena besarnya cadangan energi fosil, yang menjadi
sumber sebagian besar CO2 di atmosfir.
Kekeringan Sebabkan Kepunahan Bahasa Sumeria
San Fransisco – Mengapa bahasa Sumeria bisa punah? Seorang ahli geologi
mengungkapkan, alasannya adalah kekeringan yang terjadi 4200 tahun lalu
dan berlangsung selama 200 tahun.
Kesimpulan itu didapat dari petunjuk tak langsung (karena tak ada bukti tertulis yang menyebutkan bahwa kekeringan memang benar-benar membuat bahasa Sumeria punah). Namun sejumlah bukti arkeologi dan geologi menyebutkan, penurunan peradaban Sumeria secara bertahap disebabkan oleh kekeringan.
Penemuan itu, yang dipaparkan pada Senin (3 Desember) dalam pertemuan tahunan American Geophysical Union, menunjukkan bahwa betapa rentannya kehidupan masyarakat terhadap perubahan iklim, termasuk perubahan yang juga disebabkan oleh manusia.
Kesimpulan itu didapat dari petunjuk tak langsung (karena tak ada bukti tertulis yang menyebutkan bahwa kekeringan memang benar-benar membuat bahasa Sumeria punah). Namun sejumlah bukti arkeologi dan geologi menyebutkan, penurunan peradaban Sumeria secara bertahap disebabkan oleh kekeringan.
Penemuan itu, yang dipaparkan pada Senin (3 Desember) dalam pertemuan tahunan American Geophysical Union, menunjukkan bahwa betapa rentannya kehidupan masyarakat terhadap perubahan iklim, termasuk perubahan yang juga disebabkan oleh manusia.
“Ini
bukan musim dingin atau musim panas yang hanya berlangsung sekali,
kekeringan tersebut berlangsung selama 200-300 tahun,” kata Matt
Konfirst, ahli geologi dari Byrd Polar Research Center.
Dimulai sekitar 3.500 tahun SM, budaya Sumeria berkembang di Mesopotamia kuno, yang sekarang merupakan wilayah Irak. Bangsa Sumeria kuno menemukan tulisan paku, membuat roda dan busur pertama di dunia, serta menulis puisi epik pertama, “Gilgamesh”.
Namun setelah pergolakan selama 200 sampai 300 tahun, kebudayaan Sumeria mulai musnah sekitar 4.000 tahun yang lalu, kemudian bahasa Sumeria mulai lenyap tak lama setelahnya.
Konfirst ingin memastikan apakah kekeringan yang berlangsung selama 200 tahun merupakan penyebab kemerosotan tersebut. Sejumlah catatan geologi menunjukan bahwa kekeringan panjang terjadi di Timur Tengah sekitar 4.200 tahun yang lalu, kata Kornfist. Tingkat penguapan di Laut Mati dan Laut Merah meningkat, permukaan air di danau Van di Turki, turun, dan inti dari sedimen laut pada masa itu menunjukan bahwa pasir meningkat di wilayah tersebut.
“Saat kita kembali ke anomali iklim pada 4.200 tahun yang lalu, kita sebenarnya bisa mengerti bahwa curah hujan di wilayah tersebut mengalami penurunan secara terus menerus dan jumlah situs pemukiman pada masa itu terus mengalami penurunan,” katanya.
Pada saat yang sama, menurut sebuah penelitian dari sebuah situs arkeologi bernama Tall Leilan di Suriah pada 2006, 74 persen penduduk Mesopotamia kuno benar-benar menjadi terasing. Populasi di wilayah tersebut juga merosot 93 persen, katanya.
“Orang-orang masih tinggal di wilayah ini. Itu berarti bahwa wilayah tersebut tidak sepenuhnya terasing,” katanya. “Meski demikian ada perubahan drastis dalam tingkat populasi di sana.”
Selama masa kekeringan hebat tersebut, dua gelombang serangan terjadi di wilayah tersebut, menghancurkan ibukotanya, Ur. Setelah sekitar 2.000 SM bangsa Sumeria kuno secara bertahap musnah bersamaan dengan bahasa yang digunakan di wilayah tersebut.
Selama 2.000 tahun berikutnya bahasa mereka hanya tinggal tulisan, seperti halnya bahasa Latin pada Abad Pertengahan, namun benar-benar punah tak lama setelahnya, seperti yang dikatakan Konfirst.
Dia mengatakan bahwa penemuan tersebut juga menunjukkan, peradaban modern juga rentan terhadap perubahan iklim.
Dimulai sekitar 3.500 tahun SM, budaya Sumeria berkembang di Mesopotamia kuno, yang sekarang merupakan wilayah Irak. Bangsa Sumeria kuno menemukan tulisan paku, membuat roda dan busur pertama di dunia, serta menulis puisi epik pertama, “Gilgamesh”.
Namun setelah pergolakan selama 200 sampai 300 tahun, kebudayaan Sumeria mulai musnah sekitar 4.000 tahun yang lalu, kemudian bahasa Sumeria mulai lenyap tak lama setelahnya.
Konfirst ingin memastikan apakah kekeringan yang berlangsung selama 200 tahun merupakan penyebab kemerosotan tersebut. Sejumlah catatan geologi menunjukan bahwa kekeringan panjang terjadi di Timur Tengah sekitar 4.200 tahun yang lalu, kata Kornfist. Tingkat penguapan di Laut Mati dan Laut Merah meningkat, permukaan air di danau Van di Turki, turun, dan inti dari sedimen laut pada masa itu menunjukan bahwa pasir meningkat di wilayah tersebut.
“Saat kita kembali ke anomali iklim pada 4.200 tahun yang lalu, kita sebenarnya bisa mengerti bahwa curah hujan di wilayah tersebut mengalami penurunan secara terus menerus dan jumlah situs pemukiman pada masa itu terus mengalami penurunan,” katanya.
Pada saat yang sama, menurut sebuah penelitian dari sebuah situs arkeologi bernama Tall Leilan di Suriah pada 2006, 74 persen penduduk Mesopotamia kuno benar-benar menjadi terasing. Populasi di wilayah tersebut juga merosot 93 persen, katanya.
“Orang-orang masih tinggal di wilayah ini. Itu berarti bahwa wilayah tersebut tidak sepenuhnya terasing,” katanya. “Meski demikian ada perubahan drastis dalam tingkat populasi di sana.”
Selama masa kekeringan hebat tersebut, dua gelombang serangan terjadi di wilayah tersebut, menghancurkan ibukotanya, Ur. Setelah sekitar 2.000 SM bangsa Sumeria kuno secara bertahap musnah bersamaan dengan bahasa yang digunakan di wilayah tersebut.
Selama 2.000 tahun berikutnya bahasa mereka hanya tinggal tulisan, seperti halnya bahasa Latin pada Abad Pertengahan, namun benar-benar punah tak lama setelahnya, seperti yang dikatakan Konfirst.
Dia mengatakan bahwa penemuan tersebut juga menunjukkan, peradaban modern juga rentan terhadap perubahan iklim.
Kepala Negara Bertemu untuk Perundingan Iklim
Doha (AFP/ANTARA) รข Sekitar 100 menteri dan sejumlah
kepala negara berkumpul di Doha pada Selasa untuk pertemuan akhir
perundingan tingkat tinggi PBB terkait iklim yang ditandai dengan
perdebatan atas masalah dana dan komitmen yang diperlukan untuk
membatasi gas rumah kaca.
Sekjen PBB, Ban Ki-moon dijadwalkan akan mengadakan pertemuan dengan lebih dari 11.000 pastisipan pada sekitar 1200 GMT, dan diperkirakan akan mendesak negara-negara untuk mengesampingkan perbedaan demi masa depan dunia.
Bahkan ketika peringatan tersebut kembali mengangkat masalah terkait lintasan berbahaya dari emisi gas pemanasan Bumi, kata sejumlah pengamat yang mengatakan bahwa hampir 200 negara yang berada di perundingan tersebut tetap jauh dari bahasan isu-isu penting membuka kesepakatan global tentang perubahan iklim.
Negara-negara miskin bersikeras bahwa negara-negara Barat mengikuti pengurangan besar emisi karbon dan berkomitmen untuk mengupayakan paket pendanaan baru dari 2013 guna membantu mereka mengatasi kemarau yang memburuk, banjir, badai, dan naiknya permukaan laut.
Resolusi dari dua pertanyaan yang dikeluarkan pada akhir pertemuan pada Jumat harus memuluskan jalan bagi sebuah perjanjian baru dan universal yang harus ditandatangani pada 2015 dan mulai berlaku pada 2020 guna menanggulangi pemanasan global.
Tujuan PBB adalah untuk membatasi pemanasan sampai dua derajat Celsius yang para ilmuwan harapkan dapat membebaskan dunia dari pengaruh perubahan iklim terburuk.
sumber
Langganan:
Postingan (Atom)